JAWA TIMUR iimf.biz.id - Perjalanan hidup ini bermula pada tahun 2003, ketika saya bersama bapak kandung dan adik perempuan memutuskan merantau ke Surabaya. Keputusan itu diambil bukan karena keinginan, melainkan karena tuntutan hidup. Kami meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan, sementara ibu dan adik bungsu tetap tinggal di desa menjaga rumah dan keluarga.
Di kota besar yang keras dan penuh persaingan, kehidupan dijalani dengan kesederhanaan dan keteguhan hati. Saya dan adik bekerja sejak pagi hari, sedangkan bapak berjualan mi ayam demi memenuhi kebutuhan keluarga. Saya pun ikut membantu berjualan, merasakan langsung pahit-manis berdagang di jalanan, menahan lelah, panas, dan keterbatasan, namun tetap bertahan karena sadar hidup harus diperjuangkan.
Tidak hanya berdagang, saya juga mencoba berbagai pekerjaan lain demi menyambung hidup. Saya pernah bekerja di bengkel bubut, belajar ketelitian dan kesabaran menghadapi mesin dan besi. Dari sana berlanjut ke pekerjaan las, menguatkan mental dan fisik, sebelum akhirnya bekerja di bengkel motor, bergelut dengan oli, kotoran, dan jam kerja panjang demi mendapatkan penghasilan yang halal.
Di tengah kerasnya perjuangan, tanggung jawab terhadap pendidikan keluarga tidak pernah saya tinggalkan. Setiap sore, saya mengantar adik menempuh pendidikan tinggi, memastikan ia tidak kehilangan harapan. Pengorbanan itu akhirnya membuahkan hasil, ketika adik berhasil menyelesaikan pendidikan dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Cobaan paling berat datang pada tahun 2007, saat ibu tercinta meninggal dunia. Kepergian ibu meninggalkan duka mendalam yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Adik bungsu harus tumbuh tanpa sosok ibu, sementara kami sebagai kakak berusaha menggantikan peran, saling menopang di tengah kehilangan yang membekas sepanjang hidup.
Waktu terus berjalan, kehidupan membawa masing-masing anak pada fase baru. Pernikahan dan tanggung jawab rumah tangga pun saya jalani. Di tengah dinamika rumah tangga dan berbagai ujian kehidupan, saya berusaha memperbaiki diri, tanpa pernah melupakan jasa bapak dan ibu yang telah membesarkan dan mendidik kami dengan penuh pengorbanan.
Namun perjalanan hidup tidak selalu berjalan lurus. Kejujuran yang saya pegang teguh sering kali menjadi ujian tersendiri, karena tidak mudah dipercaya oleh semua orang. Meski kerap disalahpahami, saya memilih tetap melangkah dengan prinsip hidup yang saya yakini, walau harus menerima penilaian yang tidak selalu adil.
Dalam upaya bertahan hidup, saya kembali berpindah-pindah pekerjaan. Dari bekerja di toko, menjadi sopir, hingga mengemudi ojek online, semua saya jalani dengan penuh kesabaran. Penghasilan tidak menentu dan langkah terasa berat, namun semangat untuk bangkit dan maju tidak pernah benar-benar padam.
Memasuki tahun 2023, saya mengambil langkah baru dengan mendirikan media online sampai tahun 2026 sekarang ini sebagai bentuk ikhtiar agar perjalanan hidup yang panjang dan penuh luka dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Meski masih ada banyak kisah yang tidak saya ungkapkan secara detail, saya mensyukuri setiap proses yang telah dilalui, meyakini bahwa hidup bukan tentang kemudahan, melainkan tentang keteguhan untuk tetap bertahan dan terus melangkah ke depan.
Reporter : Sang anak
